Daftar Daerah Terdampak Kemarau Ekstrem di Indonesia Agustus 2025

Memasuki bulan Agustus 2025, Indonesia tengah menghadapi puncak dimsummbledo.id musim kemarau. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino yang masih aktif memperparah dampak kemarau, terutama di wilayah-wilayah rawan kekeringan. Pemerintah dan masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi krisis air dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) selama beberapa minggu ke depan.

Daerah Terdampak Paling Parah Musim Kemarau 2025

Menurut data yang dirilis BMKG pada awal Agustus, beberapa daerah lubuklinggau-kankemenag.id mengalami penurunan curah hujan secara drastis hingga mencapai titik terendah tahun ini. Berikut adalah daftar wilayah yang terdampak paling parah:

1. Jawa Tengah dan DIY

Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari. Beberapa kabupaten seperti Gunungkidul, Wonogiri, dan Blora mengalami kekeringan ekstrem yang berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

2. Nusa Tenggara Timur (NTT)

NTT hampir setiap tahun menjadi langganan kekeringan. Pada Agustus 2025, beberapa wilayah seperti Sumba Timur dan Belu mengalami penurunan debit air sungai secara signifikan. Krisis air bersih mulai dirasakan warga di desa-desa terpencil.

3. Sumatera Selatan

Wilayah Sumatera Selatan, terutama Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin, menghadapi risiko karhutla yang tinggi akibat padang ilalang dan hutan yang mengering. Titik panas (hotspot) meningkat drastis dibandingkan bulan sebelumnya.

4. Kalimantan Barat dan Tengah

Dua wilayah ini mulai menunjukkan tanda-tanda karhutla, terutama di area lahan gambut. Pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan.

5. Banten dan Jakarta

Kekeringan juga mulai terasa di kawasan Jabodetabek. Penurunan debit air di Waduk Jatiluhur dan Waduk Pluit dikhawatirkan memengaruhi pasokan air bersih untuk rumah tangga dan industri.

Dampak Musim Kemarau dan Langkah Antisipasi

Musim kemarau yang panjang berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan seperti:

  • Kekeringan pertanian: Petani mengalami gagal panen akibat tanah mengering dan irigasi terbatas.
  • Krisis air bersih: Warga di daerah perbukitan dan pedesaan kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
  • Karhutla: Kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi akibat suhu panas ekstrem dan minimnya curah hujan.

Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi seperti pembagian air bersih, pemasangan pompa air, dan penyemprotan lahan rawan kebakaran. Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.

Imbauan dari BMKG

BMKG mengimbau seluruh masyarakat untuk:

  • Menghemat penggunaan air sehari-hari.
  • Menghindari aktivitas pembakaran sampah di area terbuka.
  • Memantau perkembangan cuaca melalui aplikasi resmi BMKG.
  • Melaporkan bila terjadi tanda-tanda kebakaran di sekitar lingkungan.

Puncak kemarau diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan September 2025. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan musim kering tahun ini.